DPRD Kukar Dorong Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia Segera Dikelola dan Dibuka untuk Publik
Anggota DPRD Kukar,
Akhmad Akbar Haka Saputra. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia di Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) didorong segera memiliki pola pengelolaan yang jelas agar dapat dibuka dan dimanfaatkan masyarakat secara lebih optimal.
Anggota DPRD Kukar,
Akhmad Akbar Haka Saputra, menilai keberadaan taman yang berkembang melalui
swadaya warga tersebut sudah menunjukkan potensi untuk menjadi salah satu
tujuan wisata di Tenggarong.
Ia mengatakan,
dirinya bersama pemerintah sebelumnya telah melihat langsung kondisi taman
setelah mendapat informasi mengenai pengembangan kawasan tersebut.
Dalam kunjungan itu,
pembangunan taman diketahui dilakukan melalui swadaya masyarakat dan tidak
bersumber dari APBD.
Menurutnya,
keterlibatan warga dalam membangun kawasan tersebut perlu mendapat tindak
lanjut, terutama menyangkut siapa yang nantinya bertanggung jawab terhadap
pengelolaan taman.
“Memang permintaan
kawan-kawan yang pada saat itu swadaya, agar segera taman miniatur sekarang itu
dibantu untuk push dalam hal pengelolaannya,” ujarnya saat ditemui di gedung
DPRD pada Senin (28/9/2026).
Ia menyebut
pengelolaan dapat dilakukan dengan melibatkan unsur masyarakat yang berada di
sekitar kawasan.
Pokdarwis maupun
Karang Taruna dapat menjadi pilihan, sementara kerja sama dengan pihak ketiga
juga terbuka untuk dibahas.
“Mungkin ke Pokdarwis
tempat atau ke Karang Taruna, atau bisa kita pihak ketiga,” ucapnya.
Menurutnya, kepastian
pengelola dibutuhkan agar pembangunan yang sudah dilakukan masyarakat dapat
berlanjut menjadi aktivitas wisata.
Pengelola nantinya
dapat menata kawasan, menjaga fasilitas dan mengatur aktivitas pengunjung.
Ia juga melihat
potensi ekonomi dari keberadaan taman tersebut, jika nantinya telah memiliki
sistem pengelolaan yang sesuai aturan, pemerintah dapat membahas mekanisme
retribusi dari aktivitas kunjungan.
Skema tersebut juga
dinilai dapat membuka peluang agar aktivitas wisata memberikan pemasukan bagi
daerah.
“Mungkin sistem
retribusi seperti apa kita tetapkan, bisa menjadi PAD buat daerah kita,”
tuturnya.
Pengembangan taman
hingga kini masih berjalan melalui keterlibatan masyarakat. Ia menyebut warga
secara patungan terus menambahkan sejumlah elemen untuk memperindah kawasan
tersebut.
“Perkembangannya
sendiri memang sejauh ini swadaya masyarakat yang dalam tanda kutip patungan
itu cukup luar biasa, karena menambah beberapa warna, kan, warna-warna baru,”
ungkapnya.
Menurutnya, aktivitas
masyarakat tersebut menunjukkan bahwa kawasan masih terus mendapat perhatian
meski belum dibuka secara resmi.
“Dan belum dibuka
secara resmi pun kunjungan masyarakat saya lihat tinggi di situ,” kata dia.
Kondisi tersebut
menjadi alasan agar pemerintah daerah harus segera menentukan langkah
pengelolaan.
Dengan adanya
pengelola, kunjungan yang sudah mulai tumbuh dapat diarahkan menjadi aktivitas
wisata yang lebih tertata.
Ia berharap
pembahasan mengenai dasar pengelolaan dapat segera dilakukan.
Ia membuka
kemungkinan adanya regulasi maupun kerja sama dengan pihak lain untuk
mempercepat pemanfaatan taman.
“Dan harapannya
memang segera, entah kita dorong Perbup-nya atau Perda-nya, segera kita rasakan
dan mungkin bisa kita dorong ke pihak ketiga, mungkin seperti itu, untuk segera
bisa difungsikan si taman miniaturnya,” tegasnya.
Ia menilai masyarakat
yang sejak awal membangun taman tetap perlu dilibatkan ketika pola pengelolaan
ditetapkan.
Dengan demikian,
hasil swadaya warga dapat terus dirawat sekaligus dikembangkan menjadi kawasan
wisata yang memberikan manfaat lebih luas.
Sementara itu, Plt
Kepala Dinas Pariwisata Kukar, Awang Agus Dharmawan mengatakan, pengelolaan
destinasi berbasis masyarakat mulai diterapkan di Kelurahan Panji.
Pemerintah membentuk
Pokdarwis Panji Berseri sebagai salah satu wadah masyarakat untuk terlibat
dalam pengelolaan kawasan wisata.
Pokdarwis tersebut
saat ini diarahkan untuk menangani Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen
Dunia.
Pola tersebut dinilai
dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan destinasi wisata lain di wilayah
Panji.
“Alhamdulillah sudah
ada Pokdarwis Panji, tapi itu sih lebih fokus ke lokasinya Taman Miniatur,”
ujarnya.
Ia mengatakan
keberadaan Pokdarwis juga menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun pola
pengelolaan yang tidak sepenuhnya bertumpu pada perangkat daerah.
Masyarakat diberi
ruang untuk ikut menjalankan destinasi sehingga pengelolaan dapat berlangsung
lebih aktif.
“Karena kalau semua
dikelola Dinas Pariwisata, kemungkinan stagnan, tidak bisa jalan,” kata dia.
Pendekatan tersebut
selanjutnya diarahkan agar masyarakat di lingkungan sekitar turut mengambil
peran.
Kelurahan Panji memiliki 19 RT yang dinilai memiliki potensi untuk terlibat dalam menjaga serta mengembangkan destinasi wisata yang berada di wilayahnya.
“Karena Kelurahan
Panji sendiri kan punya 19 RT itu. Artinya kalau 19 RT-nya mengelola tempat
wisata yang memang di situ, insyaallah akan maju," tutupnya. (Adv/Kriz)